JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) menutup 2025 dengan capaian penyaluran kredit yang lebih tinggi dari target awal, menegaskan posisi bank pelat merah ini sebagai salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski tahun lalu berhasil mencatat pertumbuhan kredit dua digit, perseroan memilih strategi moderat untuk 2026 dengan target pertumbuhan yang realistis.
Total kredit konsolidasi BNI tercatat mencapai Rp 899,5 triliun hingga Desember 2025, tumbuh 15,9% secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui target pertumbuhan 8–10% yang dipatok perusahaan. Pertumbuhan ini ditopang terutama oleh segmen business banking, dengan outstanding Rp 725,1 triliun atau meningkat 17,5% YoY.
Menurut paparan perusahaan, segmen korporasi menjadi kontributor terbesar dengan outstanding Rp 518,2 triliun, tumbuh 20,1% YoY. Kredit kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mencatat pertumbuhan paling signifikan, melonjak 59,9% YoY menjadi Rp 181,9 triliun.
Sementara itu, kredit kepada korporasi swasta dan institusi tumbuh lebih moderat sebesar 5,9% YoY menjadi Rp 336,3 triliun.
Segmen menengah (middle) juga menunjukkan kinerja positif dengan outstanding Rp 131,8 triliun, naik 19,9% YoY. Di sisi lain, segmen kecil (small) relatif stabil dengan outstanding Rp 75,1 triliun, meski menurun 0,9% YoY, terutama karena penurunan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar 20,8% YoY menjadi Rp 26,3 triliun.
Pertumbuhan Kredit Konsumer yang Stabil
Sementara itu, sektor konsumer BNI mencatat outstanding kredit Rp 156,2 triliun, meningkat 9,6% YoY. Pertumbuhan ini didorong oleh kredit pemilikan rumah (KPR) senilai Rp 72,7 triliun, naik 9,3% YoY, dan personal loan sebesar Rp 63,5 triliun, tumbuh 9,6% YoY.
Dari sisi sektor industri, pertumbuhan kredit didominasi sektor infrastruktur, yang menjadi kontributor utama dengan kenaikan Rp 63,3 triliun. Disusul sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp 12,6 triliun, serta sektor sumber daya alam senilai Rp 7,6 triliun.
Dengan distribusi yang seimbang ini, BNI berhasil menjaga pertumbuhan kredit tetap solid meski menghadapi tantangan makroekonomi dan volatilitas pasar.
Kualitas Aset dan Rasio NPL
Kualitas aset BNI juga membaik, dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) secara konsolidasi turun menjadi 1,9% pada akhir 2025. Secara segmen, NPL bisnis menengah turun dari 5,2% menjadi 4,7%, sedangkan segmen bisnis kecil membaik dari 4,5% menjadi 3,5%.
Namun, NPL pada segmen korporasi dan konsumer mengalami kenaikan. NPL korporasi naik dari 0,7% menjadi 0,8%, sedangkan NPL konsumer meningkat dari 1,9% menjadi 2,7%.
Peningkatan ini sebagian besar dipengaruhi faktor eksternal dan fluktuasi ekonomi, namun tetap berada di bawah ambang batas risiko yang dapat diterima bank.
Target Moderat BNI di Tahun 2026
Memasuki 2026, BNI menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8–10%, lebih moderat dibanding realisasi tahun lalu. Net interest margin (NIM) dipatok antara 3,5–3,8%, sementara credit cost ditargetkan 1–1,2%, sejalan dengan realisasi 2025 sebesar 1,15%. Strategi ini menunjukkan bahwa BNI mengedepankan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan pengelolaan risiko yang hati-hati.
Fokus BNI pada segmen korporasi besar, bisnis menengah, dan konsumer strategis menjadi bagian dari strategi diversifikasi risiko. Pertumbuhan kredit yang terkendali diharapkan tetap mendorong laba, sekaligus menjaga kesehatan neraca dan rasio NPL pada tingkat optimal.
Dengan capaian kredit 2025 yang melampaui target dan rencana pertumbuhan moderat di 2026, BNI menegaskan posisi sebagai bank nasional yang mendukung ekspansi bisnis, pembiayaan infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi melalui kredit berkualitas.