JAKARTA - PT Astra International Tbk (ASII), salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di sektor otomotif dan berbagai industri lainnya, mengumumkan rencana untuk membagikan dividen final sebesar Rp 292 per saham untuk tahun 2025.
Dividen ini akan dibagikan kepada para pemegang saham setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada April 2026.
Rencana pembagian dividen ini menjadi sorotan karena menunjukkan stabilitas perusahaan meskipun ada sedikit penurunan dalam laba bersih tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Total Dividen yang Diusulkan untuk Tahun 2025
Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro, menyampaikan bahwa selain dividen final sebesar Rp 292 per saham, perusahaan juga telah memberikan dividen interim sebesar Rp 98 per saham pada Oktober 2025. Dengan demikian, total dividen yang akan dibagikan untuk tahun 2025 adalah sebesar Rp 390 per saham.
Djony juga menegaskan bahwa pembagian dividen ini mencerminkan rasio pembayaran dividen sebesar 48% dari laba bersih yang diperoleh Astra International pada 2025.
Rasio pembayaran dividen yang tinggi ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk memberikan keuntungan kepada pemegang saham meskipun ada penurunan sedikit dalam laba bersih dan pendapatan.
Kinerja Keuangan Astra International pada Tahun 2025
Pada tahun 2025, Astra International mencatatkan laba bersih sebesar Rp 32,76 triliun, meskipun mengalami penurunan 3,33% dibandingkan dengan laba bersih tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 33,9 triliun.
Hal ini juga mempengaruhi laba per saham yang turun menjadi Rp 810 per saham, dibandingkan dengan sebelumnya yang mencapai Rp 837 per saham.
Namun, meskipun ada penurunan laba bersih, Astra berhasil mempertahankan pendapatan yang cukup stabil. Pendapatan bersih perusahaan pada tahun 2025 tercatat sebesar Rp 323,39 triliun, meskipun sedikit menurun 1,54% dibandingkan dengan pendapatan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp 328,48 triliun.
Penurunan ini terjadi di sebagian besar segmen usaha, meskipun segmen otomotif dan mobilitas masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perusahaan.
Performa Segmen Usaha Astra International
Astra International memiliki berbagai segmen usaha yang mencakup otomotif, jasa keuangan, alat berat, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, dan properti. Segmen otomotif dan mobilitas tercatat menyumbang pendapatan terbesar yaitu Rp 125,65 triliun, sementara jasa keuangan mencatatkan pendapatan sebesar Rp 33,44 triliun.
Meskipun pendapatan di sebagian besar segmen menurun, segmen otomotif dan mobilitas tetap menjadi pilar utama Astra dalam mendukung stabilitas keuangan perusahaan.
Sementara itu, segmen alat berat dan pertambangan memberikan kontribusi sebesar Rp 131,3 triliun, dengan pendapatan dari sektor agribisnis mencapai Rp 28,65 triliun.
Pendapatan dari sektor properti tercatat sebesar Rp 1,13 triliun, meskipun mengalami penurunan, dan sektor infrastruktur mencatatkan pendapatan sebesar Rp 3,16 triliun.
Tantangan dan Peluang Astra International di Masa Depan
Meskipun pendapatan dan laba Astra International mengalami penurunan di 2025, perusahaan tetap optimis dengan prospek ke depannya. Penurunan laba ini lebih banyak disebabkan oleh tantangan global dan dinamika pasar yang mempengaruhi sebagian besar sektor.
Namun, Astra International masih dapat mempertahankan daya tahan yang kuat dengan mencatatkan total aset yang terus meningkat menjadi Rp 507,36 triliun pada akhir tahun 2025.
Peningkatan total aset dan ekuitas perusahaan menjadi indikator positif dari kinerja keuangan yang sehat. Total liabilitas perusahaan juga mengalami kenaikan menjadi Rp 216,55 triliun, namun ini dianggap wajar mengingat perusahaan terus berinvestasi dalam pengembangan bisnis dan penguatan ekosistemnya di berbagai sektor.
Selain itu, Astra International juga melaporkan peningkatan jumlah kas dan setara kas yang mencapai Rp 52,62 triliun, yang menunjukkan posisi kas yang sangat kuat dan dapat mendukung pengembangan bisnis dan strategi investasi di masa depan.
Ke depannya, Astra berencana untuk terus beradaptasi dengan perubahan pasar, serta berfokus pada pengembangan sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.