Rahasia Otak Saat Jatuh Cinta: Alasan Mengapa Jantung Berdebar

Rahasia Otak Saat Jatuh Cinta: Alasan Mengapa Jantung Berdebar
Rahasia Otak Saat Jatuh Cinta.

JAKARTA - Jantung yang tiba-tiba berdebar saat dekat dengan seseorang, atau senyum tanpa sadar saat namanya muncul di layar ponsel, adalah tanda bahwa Anda mungkin sedang jatuh cinta.

Perasaan ini sering terasa abstrak, campur aduk, dan sulit dijelaskan. Namun, dari sudut pandang sains, jatuh cinta bukan sekadar urusan hati. Terdapat proses biologis nyata di dalam otak yang memengaruhi cara kami berpikir, merasa, bahkan bertindak.

Bahkan, menurut American Psychological Association (APA), cinta dapat dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia, setara dengan makan, minum, dan olahraga. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak saat kami jatuh cinta?

Penelitian menggunakan functional MRI (fMRI) menemukan bahwa saat seseorang jatuh cinta, bagian otak bernama ventral tegmental area (VTA) langsung aktif. 

Area ini terletak di tengah otak dan merupakan bagian dari sistem penghargaan yang juga aktif saat kami makan atau minum ketika lapar dan haus.

Aktivasi di area ini menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar emosi, melainkan dorongan biologis untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Saat jatuh cinta, otak bekerja seperti "pabrik kimia" kecil. Setidaknya ada 12 area otak yang aktif bersamaan dan melepaskan berbagai hormon, seperti:

  • Dopamin, yang memicu rasa senang dan bahagia.
  • Oksitosin, yang dikenal sebagai hormon kedekatan dan kelekatan.
  • Adrenalin, yang membuat jantung berdebar dan tubuh lebih waspada.

Di sisi lain, kadar serotonin justru menurun. Hormon ini biasanya berperan dalam mengatur suasana hati dan pikiran.

Penurunan serotonin inilah yang menjelaskan mengapa orang yang jatuh cinta bisa menjadi lebih obsesif, sering memikirkan pesan, mengulang percakapan, atau overthinking hal-hal kecil.

Kenapa terasa deg-degan dan bikin candu?

Melansir dari laman Georgetown University, cinta mengaktifkan sistem penghargaan otak yang disebut mesolimbic system. Sistem ini membuat pengalaman jatuh cinta terasa sangat menyenangkan, bahkan cenderung "nagih".

Saat bertemu atau berinteraksi dengan orang yang disukai, dopamin meningkat untuk memperkuat rasa senang. Sementara itu, hormon stres seperti kortisol juga ikut naik karena adanya unsur ketidakpastian.

Kombinasi ini membuat kami merasa deg-degan sekaligus ingin terus dekat dengan orang tersebut.

Menariknya, bagian otak yang biasanya membantu kami berpikir rasional, seperti memberi sinyal "hati-hati", justru menjadi kurang aktif. Sebaliknya, bagian yang membuat kami terus memikirkan orang tersebut menjadi lebih dominan.

Dari jatuh cinta ke hubungan jangka panjang

Seiring waktu, ketika hubungan berubah dari fase "jatuh cinta" menjadi hubungan jangka panjang, pola aktivitas otak juga ikut berubah.

Bagian otak bernama basal ganglia, yang berperan dalam membangun keterikatan, mulai lebih aktif. Inilah yang membuat hubungan bisa bertahan, bahkan saat kondisi tidak selalu menyenangkan.

Selain itu, area yang lebih kompleks seperti angular gyrus dan sistem mirror neuron juga ikut aktif. Hal ini membantu pasangan saling memahami, membaca perasaan satu sama lain, bahkan bisa "sinkron" dalam berpikir atau bertindak.

Tidak heran, ada pasangan yang mampu saling melengkapi kalimat atau bergerak kompak tanpa banyak bicara.

5 bagian otak yang aktif saat jatuh cinta

Berikut beberapa area otak yang berperan saat seseorang jatuh cinta:

  1. Ventral tegmental area (VTA): Bagian dari sistem penghargaan yang membuat cinta terasa seperti kebutuhan dasar.
  2. Amigdala dan hipokampus: Mengatur emosi dan memori, sehingga momen bersama terasa lebih bermakna.
  3. Basal ganglia: Berperan dalam membangun keterikatan dan menjaga hubungan jangka panjang.
  4. Angular gyrus dan sistem mirror neuron: Membantu memahami pasangan dan menciptakan koneksi yang lebih dalam.
  5. Sistem reward (mesolimbik): Mengatur pelepasan dopamin dan membuat cinta terasa menyenangkan sekaligus menarik.

Cinta memang terasa emosional dan personal. Namun, di balik itu, terdapat proses kompleks di otak, mulai dari aktivasi sistem penghargaan, perubahan hormon, hingga penyesuaian cara berpikir.

Itulah sebabnya jatuh cinta bisa terasa begitu kuat, bahkan terkadang sulit dijelaskan dengan logika. Apa yang kami rasakan sebagai cinta ternyata merupakan hasil kerja sama antara otak, hormon, dan pengalaman, yang membuat hubungan manusia begitu unik dan bermakna.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index