JAKARTA — Setiap orang tua tentu berharap buah hatinya tumbuh menjadi pribadi yang baik, peduli, serta mampu menghargai sesama.
Namun, membentuk karakter positif tidak cukup hanya melalui nasihat atau aturan semata.
Kebaikan hati justru lebih banyak diserap anak dari perilaku keseharian yang mereka saksikan langsung di rumah.
Cara orang tua berbicara, merespons masalah, memperlakukan orang lain, hingga mengelola emosi menjadi teladan yang akan mereka tiru.
Di tengah dunia yang semakin kompetitif, kemampuan untuk berempati menjadi bekal krusial. Berikut enam kebiasaan orang tua yang dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang berhati baik:
Mengedepankan Empati: Anak belajar dari pengamatan. Sikap sopan kepada petugas layanan, menghormati orang tua, atau bersabar saat menghadapi kemacetan adalah pelajaran nyata.
Selain itu, berani meminta maaf saat salah dan membiasakan ucap terima kasih menunjukkan kedewasaan karakter.
Mendengarkan Tanpa Menghakimi: Anak yang merasa didengar akan tumbuh dengan rasa aman emosional.
Saat mereka bebas mengungkapkan ketakutan atau kemarahan tanpa takut dihakimi, mereka belajar menghargai perasaan orang lain, sehingga lebih empati dan tidak reaktif.
Mendisiplinkan dengan Tenang: Merespons kesalahan dengan nada tinggi mungkin efektif sesaat, namun pendekatan tenang tetapi tegas membantu anak mengendalikan emosi. Anak belajar bahwa masalah tidak harus diselesaikan dengan kemarahan.
Membiasakan Rasa Syukur: Anak yang terbiasa bersyukur lebih menghargai orang lain.
Kebiasaan mengapresiasi bantuan atau berbagi cerita baik harian membantu mereka memahami nilai kepedulian dan lebih peka terhadap kebutuhan sekitar.
Tidak Memaksa Meminta Maaf: Permintaan maaf yang dipaksakan sering kali kehilangan makna.
Psikolog Emily Guarnotta menyarankan agar orang tua memberi waktu sampai emosi anak stabil, lalu ajak mereka memahami dampak perilakunya terhadap orang lain agar permintaan maaf menjadi tulus.
Mengajak Memahami Perbedaan: Jangan hindari pertanyaan anak tentang keberagaman.
Jadikan perbedaan latar belakang atau kondisi sebagai kesempatan untuk mengajarkan rasa hormat dan penerimaan bahwa setiap orang layak diperlakukan dengan baik.