JAKARTA - Perayaan Idulfitri identik dengan berbagai hidangan khas yang menggugah selera. Ketupat, opor ayam, rendang, hingga aneka kue manis biasanya tersaji di hampir setiap rumah. Momentum berkumpul bersama keluarga juga sering diiringi dengan kebiasaan makan yang lebih banyak dari biasanya.
Namun, di balik suasana meriah tersebut, banyak orang mulai merasakan perubahan pada kondisi tubuh setelah masa libur Lebaran berakhir. Keluhan kesehatan seperti kolesterol tinggi, gula darah meningkat, hingga gangguan pencernaan kerap muncul setelah periode konsumsi makanan yang lebih tinggi lemak, gula, dan karbohidrat.
Perayaan Idulfitri kerap diikuti lonjakan keluhan kesehatan. Konsumsi makanan berlemak, manis, dan tinggi karbohidrat selama Lebaran tak jarang berujung masalah kolesterol dan gula darah.
Hal tersebut terlihat dari hasil laporan Indonesia Health Insights Q1 2026 yang dirilis oleh Halodoc. Laporan tersebut dibuat dari hasil analisis data kesehatan pengguna Halodoc selama periode Ramadan-Lebaran 2025.
Lonjakan Pemeriksaan Kesehatan Setelah Lebaran
Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria mengatakan, masyarakat cenderung mulai memeriksa kondisi kesehatan mereka setelah menikmati berbagai hidangan khas Lebaran.
"Orang-orang yang berkonsultasi untuk melakukan tes kolesterol, tes gula darah itu meningkatnya hampir dua kali lipat di minggu pertama Lebaran," ujar Fibriyani.
Menurutnya, peningkatan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi dampak pola konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri.
Lonjakan konsultasi kesehatan ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai menyadari pentingnya memantau kondisi tubuh setelah periode makan yang cenderung lebih bebas selama hari raya.
Selain pemeriksaan kesehatan, pencarian produk diet juga mengalami kenaikan. Halodoc mencatatkan peningkatan sekitar 62 persen pada minggu pertama dan kedua setelah Lebaran.
Fibriyani mengatakan, masyarakat mulai mencari berbagai metode untuk menurunkan berat badan setelah periode konsumsi makanan saat hari raya.
"Banyaknya memang melihatnya produk-produknya yang mulai dari yang herbal, atau juga yang medical yang diminum, sampai kalau sekarang itu ada yang namanya suntik atau injeksi program diet yang melibatkan, misalnya, semaglutide," katanya.
Keluhan Pencernaan Juga Meningkat
Selain masalah metabolik seperti kolesterol dan gula darah, gangguan pencernaan juga menjadi keluhan yang cukup sering muncul setelah perayaan Lebaran.
Perubahan pola makan secara mendadak serta konsumsi makanan yang tinggi lemak dapat memicu gangguan pada sistem pencernaan.
Data dari Halodoc menunjukkan bahwa keluhan sembelit meningkat hingga hampir 40 persen setelah Lebaran, dengan puncak keluhan terjadi pada pekan pertama Idulfitri.
Sementara itu, keluhan diare juga mengalami peningkatan sekitar 13 persen pada periode yang sama. Fenomena lain yang menarik adalah waktu konsultasi kesehatan yang cenderung meningkat pada waktu tertentu.
"Yang menarik, peningkatan konsultasi itu biasanya paling tinggi di subuh. Jadi meningkat sampai enam kali lipat orang konsultasinya di subuh," kata Fibriyani.
Ia mengatakan, waktu konsultasi tersebut kemungkinan terjadi karena masyarakat baru menyadari keluhan pencernaan setelah bangun tidur.
"Mungkin karena bangun terus kenapa begah banget atau kenapa sulit sekali untuk ke belakang," ujarnya.
Pola Makan Berpengaruh Pada Kesehatan
Dokter spesialis penyakit dalam, Waluyo Dwi Cahyono menjelaskan bahwa gangguan pencernaan yang muncul setelah Lebaran sebenarnya dapat diantisipasi dengan menjaga pola makan yang seimbang.
Menurutnya, konsumsi makanan berlemak dan tinggi karbohidrat secara berlebihan dapat memberikan tekanan pada sistem pencernaan. Hal ini dapat memicu berbagai keluhan seperti perut kembung, sembelit, hingga gangguan metabolisme lainnya.
Untuk itu, penting bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan komposisi makanan yang dikonsumsi meskipun sedang menikmati suasana perayaan.
"Untuk menghindari sembelit tentu harus diimbangi dengan sayuran dan buah-buahan supaya kita tidak menjadi sembelit," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa makanan berserat seperti sayuran dan buah sangat penting untuk membantu sistem pencernaan tetap bekerja dengan baik.
Pentingnya Mengatur Pola Konsumsi
Selain menjaga keseimbangan nutrisi, mengatur jumlah konsumsi makanan juga menjadi hal penting agar kesehatan tetap terjaga setelah Lebaran.
Kebiasaan makan berlebihan selama hari raya dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga peningkatan kadar kolesterol. Oleh karena itu, mengontrol porsi makanan menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.
Dokter Waluyo juga menekankan bahwa masyarakat tetap dapat menikmati berbagai hidangan Lebaran selama dilakukan dengan bijak dan tidak berlebihan.
"Yang penting kita mengatur jumlahnya dan ditambah buah dan sayuran," ujarnya.
Dengan memperhatikan keseimbangan nutrisi serta mengatur pola makan, masyarakat dapat tetap menikmati berbagai hidangan khas Lebaran tanpa harus mengalami lonjakan masalah kesehatan setelahnya.
Selain itu, kesadaran untuk memeriksa kondisi kesehatan setelah masa libur juga menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Melalui pengaturan pola makan yang lebih seimbang serta gaya hidup yang sehat, risiko gangguan kesehatan setelah Lebaran dapat diminimalkan sehingga tubuh tetap bugar dalam menjalani aktivitas sehari-hari.