Bahlil Ungkap Tantangan Jadi Menteri ESDM di Tengah Krisis Geopolitik

Minggu, 12 Juli 2026 | 13:10:01 WIB
Bahlil Lahadalia: Jadi Menteri ESDM di Era Geopolitik Tidak Gampang [FOTO: NET].

JAKARTA - Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar), Bahlil Lahadalia, mengakui bahwa mengemban jabatan sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di tengah situasi geopolitik saat ini bukanlah tugas yang ringan.

"Saya harus jujur mengatakan bahwa menjadi Menteri ESDM di era kondisi geopolitik yang tidak menentu itu bukan sesuatu yang gampang," ujar Bahlil di hadapan para kader dalam acara Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub) Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), di Jakarta Pusat, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Bahlil, ilmu yang diperoleh di bangku pendidikan memang menyediakan fondasi analisis kebijakan dan pemikiran kritis, namun hal itu dirasa belum memadai bagi seorang menteri. 

Ia kemudian mencontohkan peristiwa penutupan Selat Hormuz yang menyebabkan kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) sempat tertahan di Teluk Arab akibat meningkatnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

"Ilmu sekolah enggak cukup. Tidak ada itu mata kuliah di energi kalau Selat Hormuz ditutup ambil minyak dari mana? Enggak ada. Itu butuh dinamika yang sangat luar biasa sekali," ucapnya.

Meskipun demikian, Bahlil menegaskan telah melakukan berbagai langkah agar kepentingan masyarakat tetap menjadi prioritas di tengah ketidakpastian geopolitik tersebut.

"Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, sebagai kader Partai Golkar, harus mengutamakan kepentingan rakyat dengan berbagai dinamika yang tinggi," tuturnya.

Bahlil menyampaikan bahwa ia telah memberikan laporan kepada Presiden RI Prabowo Subianto agar harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak mengalami kenaikan.

"Saya melaporkan kepada Bapak Presiden, menyarankan kepada Bapak Presiden dan sekaligus Bapak Presiden mengarahkan agar harga BBM subsidi tidak perlu kami naikkan. Alhamdulillah harga BBM subsidi tidak ada kami naikkan," pungkasnya.

Terkini