Pasca-IPO, Saham JELI Bidik Pertumbuhan Pendapatan Dua Digit

Selasa, 07 Juli 2026 | 02:17:01 WIB
Listing Perdana di BEI, Produsen INACO Targetkan Pendapatan Naik [FOTO: NET].

JAKARTA — Emiten produsen makanan dan minuman bermerek INACO, PT Niramas Utama Tbk. (JELI) mencanangkan target capaian kinerja pendapatan serta laba bersih yang lebih tinggi di sepanjang periode tahun 2026 pasca-merampungkan proses pencatatan saham perdana (listing) kepada publik.

Direktur JELI Adhi S. Lukman mengutarakan, pihak perseroan tetap memelihara rasa optimistis terhadap prospek industri makanan dan minuman, kendati aktivitas sektor manufaktur berskala nasional pada saat ini masih dihadapkan pada situasi tekanan. 

Menurut penilaiannya, langkah investasi yang dieksekusi oleh perusahaan merupakan bagian dari strategi jangka panjang guna memperkokoh fundamental bisnis.

"Kami berharap tahun ini top line tumbuh sekitar 26%. Bottom line juga harusnya lebih tinggi dari tahun lalu. Kami konsisten memperbaiki mutu, menambah SKU, dan tahun ini ada peluncuran beberapa produk baru," ujar Adhi, Selasa (7/7/2026).

Guna menyokong laju pertumbuhan dimaksud, JELI merancang agenda untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi, merilis varian produk baru, serta mempertebal penetrasi di pasar ekspor. Sederet produk anyar, sambungnya, dijadwalkan bakal mengudara pada September dan November 2026, sebagai bagian dari taktik memperluas portofolio sekaligus memacu kurva pertumbuhan omzet penjualan dan profit perseroan.

Pihak perseroan merasa optimistis taktik investasi jangka panjang yang ditopang oleh suntikan dana hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering) akan memperkuat fondasi bisnis di tengah impitan tantangan daya beli masyarakat sekaligus tren perlambatan sektor manufaktur.

Adhi memaparkan, perolehan dana segar hasil IPO sebagian besar porsinya akan dialokasikan untuk pos belanja modal (capital expenditure) demi menaikkan volume kapasitas produksi serta efisiensi lini operasional. 

Sekitar 70% dari dana IPO tersebut diplot untuk pos investasi, dengan rincian sekitar 51% dimanfaatkan bagi pengembangan kapasitas dan kategori varian produk baru, sementara kisaran 18%–19% diarahkan guna pembenahan sistem logistik serta otomatisasi mesin produksi.

"Kami melihat investasi ini untuk jangka panjang. Walaupun jangka pendek ada tantangan, kami yakin industri makanan dan minuman masih memiliki potensi yang sangat besar," katanya.

Perseroan pada saat sekarang tengah menggenjot perluasan kapasitas produksi sekitar 26% pada tahun 2026 dari kondisi kapasitas eksisting yang terpantau telah mendekati volume 2 miliar kemasan per tahunnya. Fasilitas pabrik produksi milik JELI tercatat tersebar di wilayah Bekasi, Pontianak, Pandaan, hingga Sukabumi.

Adhi memproyeksikan lompatan yang lebih signifikan baru mulai terealisasi pada tahun 2028 setelah seluruh agenda investasi pengadaan mesin baru rampung pada akhir tahun 2027. Arah pengembangan bisnis ke depan akan difokuskan untuk lini produk Gummy Candy dan produk Jelly, yang diproyeksikan bakal menjadi motor penggerak pertumbuhan baru baik untuk segmen pasar domestik maupun ceruk ekspor.

Menurut pandangan Adhi, ceruk peluang ekspor bagi produk-produk terkait terbilang cukup menjanjikan. Saat sekarang, JELI dilaporkan telah mengapalkan produknya ke kisaran 30 negara tujuan, meskipun sumbangsihnya terhadap total omzet penjualan dirasa masih relatif kecil. Ke depan, korporasi membidik target penguatan penetrasi di sejumlah pasar utama, seperti India, Filipina, Arab Saudi, Jepang, hingga merambah kawasan Eropa dan Amerika Latin.

"Kami melihat potensi ekspor produk baru akan jauh lebih besar sehingga kontribusinya terhadap pendapatan juga akan meningkat," ujarnya.

Dari sudut pandang makro industri, Adhi menilai peta prospek sektor makanan dan minuman tetap menjanjikan lantaran angka pertumbuhannya secara historis konsisten berada di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwasanya masih terdapat sederet tantangan yang patut diantisipasi, terutama menyangkut tren melemahnya daya beli masyarakat serta faktor ketidakpastian geopolitik global.

"Challengenya memang daya beli dan kondisi geopolitik. Tapi kami yakin masyarakat tetap membutuhkan makanan dan minuman, sehingga prospek industrinya masih sangat baik," katanya.

Sikap optimistis tersebut didukung oleh potret perbaikan performa finansial perseroan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. 

Berdasarkan dokumen laporan keuangan tahun buku 2025, JELI sukses membukukan angka penjualan menyentuh Rp753,05 miliar. Meskipun kurva penjualan sempat mengalami koreksi sebesar 6,02% pada 2024 dan kembali menyusut 4,49% pada 2025, pihak perseroan justru sanggup mengeskalasi derajat profitabilitas secara signifikan. 

Nilai laba tahun berjalan dilaporkan melonjak drastis hingga 592,50% pada tahun 2024 dan kembali mendaki di level 235,50% pada periode tahun 2025.

Terkini