Nasib Emiten Emas ANTM & BRMS Cs pada Paruh Kedua 2026

Jumat, 03 Juli 2026 | 00:22:31 WIB
Sentimen Penentu Nasib Emiten Emas ANTM hingga BRMS di Sisa 2026 [FOTO: NET].

JAKARTA – Operasional serta kinerja emiten berbasis komoditas emas di pasar modal dalam negeri saat ini mulai dibayangi oleh sentimen melandainya harga emas global sepanjang paruh pertama 2026.

 Komoditas emas yang sempat menorehkan kilau sepanjang tahun 2025 kini berbalik arah dan berpotensi memberikan tekanan pada rapor keuangan emiten terkait.

Merujuk data dari Trading Economics, nilai emas terpantau terkoreksi dari posisi US$4.446 di awal tahun menuju level US$4.031,4 per troy ounce pada sesi perdagangan kemarin. Dengan kata lain, harga emas sudah merosot sebanyak 9,33% sepanjang tahun berjalan 2026. 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa tahun lalu, di mana sepanjang tahun 2025 harga emas berhasil mencatatkan lonjakan hingga 61,34% dari level US$2.685 ke posisi US$4.332 per troy ounce pada akhir tahun.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan harga emas dunia di paruh pertama 2026 ini lebih dipicu oleh keperkasaan mata uang dolar AS serta maraknya aksi ambil untung (profit taking) pascarali masif harga emas pada beberapa tahun terakhir. 

Para pemodal ditengarai mengalihkan penempatan dana mereka dari aset safe haven ke mata uang dolar AS yang tampil dominan dalam beberapa bulan belakangan.

”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Di samping itu, tren melesatnya popularitas kecerdasan buatan (AI booming) turut diidentifikasi sebagai salah satu pemicu merosotnya nilai emas belakangan ini. Para investor disinyalir berbondong-bondong merestrukturisasi portofolio mereka ke sektor-sektor yang tengah memiliki narasi pertumbuhan besar dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, harga komoditas emas dinilai masih menyimpan ruang untuk kembali menguat hingga pengujung tahun 2026. Estimasi tersebut didorong oleh sikap otoritas bank sentral Amerika Serikat yang diprediksi tetap ketat (hawkish) serta tensi geopolitik global yang melibatkan negara Iran dan AS.

”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” katanya.

Di sisi lain, naiknya risiko inflasi di tingkat global disinyalir membuat para investor makin berhati-hati dalam menambah porsi kepemilikan emas sebagai aset pelindung nilai. Situasi ini tidak lepas dari posisi harga emas saat ini yang dinilai sudah melonjak sangat tinggi jika dikomparasikan dengan dua tahun ke belakang.

Kendati begitu, Lukman memproyeksikan bahwa jajaran bank sentral global bakal tetap merealisasikan aksi beli emas fisik secara konsisten. Oleh sebab itu, tingkat permintaan fisik terhadap logam mulia diprediksi tetap kokoh untuk periode ke depan.

”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” tegasnya.

Direktur Utama Doo Financial Futures Ariston Tjendra turut menambahkan bahwa di sepanjang paruh pertama tahun 2026, aktivitas transaksi komoditas di Doo Financial tampil mendominasi total volume perdagangan. 

Dinamika harga emas yang bergerak volatil dinilai menjadi daya pikat utama bagi aktivitas transaksi di perusahaan perdagangan berjangka ini. Untuk paruh kedua 2026, Ariston memproyeksikan perdagangan komoditas tetap akan menjadi motor penggerak utama aktivitas di Doo Financial.

”Saya rasa komoditas masih mendominasi, tidak akan bisa disaingin. Emasnya sendiri itu lebih dikenal di masyarakat dan dari pergerakan volatilitas harga karena di transaksi berjangka ini yang ditransaksikan itu naik turunnya harga. Karena volatilitas emas besar, jadi peluang mendapatkan profit juga lebih besar,” katanya dalam kesempatan yang sama.

Prospek Saham Emiten Emas

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta memperkirakan perolehan laba bersih dari jajaran emiten emas akan terus bertumbuh secara kokoh di sepanjang tahun ini. Kendati demikian, performa solid tersebut diproyeksikan tidak akan melampaui laju capaian fundamental emiten pada tahun sebelumnya.

Walaupun harga emas dunia belakangan ini terpangkas cukup dalam, Nafan mengaku tetap optimistis memandang prospek fundamental perusahaan-perusahaan terkait. Salah satu faktor penguatnya adalah kondisi nilai tukar rupiah yang cenderung melemah, sehingga emas dapat dimanfaatkan sebagai instrumen lindung nilai alami (natural hedge) oleh publik.

”Jika nilai tukar rupiah terdepresiasi, emas akan bertindak sebagai natural hedge. Harga emas dunia terkoreksi, tapi pelemahan nilai tukar rupiah bisa otomatis mendongkrak average selling price [emiten],” katanya, Kamis (2/7/2026).

Selain faktor kurs, Nafan menggarisbawahi bahwa permintaan terhadap emas fisik masih akan tetap solid dalam jangka panjang. Ia merujuk pada data World Gold Council yang mengindikasikan bahwa serapan emas fisik oleh pihak bank sentral serta investor domestik masih berada di level yang tinggi.

 Kekokohan fundamental emiten emas juga disokong oleh cemerlangnya capaian kinerja kuartal I/2026, sehingga memberikan bantalan (buffer) yang cukup tebal bagi emiten apabila harga emas kembali merosot di sisa tahun ini.

”Secara kumulatif tahun penuh 2026, laba bersih emiten emas diproyeksikan tetap tumbuh positif, tetapi dengan laju yang lebih moderat dibandingkan lonjakan tahun lalu,” kata Nafan.

Bukan sekadar pergerakan harga komoditas, emiten emas di dalam negeri saat ini juga dihadapkan pada tantangan keberlanjutan volume produksi, arah regulasi domestik, hingga risiko melambungnya ongkos energi yang berpotensi menekan margin profitabilitas. 

Menurut pandangannya, emiten yang mampu menjaga peningkatan volume produksi secara konisten seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) atau PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) hingga PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang ditopang basis pasar domestik kuat, berpeluang mempertahankan pertumbuhan laba yang sehat.

”Tantangan lainnya masih berkaitan dengan suku bunga tinggi. Takutnya kalau suku bunga tinggi, para investor cenderung memegang dolar AS, emas menjadi kurang menarik. Tapi secara jangka pendek,” katanya.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi memberikan penilaian bahwa prospek emiten emas pada paruh kedua tahun 2026 masih tergolong konstruktif karena harga jual rata-rata komoditas ini terpantau masih bertengger jauh di atas biaya produksi (cost of production). 

Di samping itu, margin operasional dari para emiten emas dinilai masih cukup tebal. Wafi memandang penurunan yang menimpa harga emas belakangan ini lebih merepresentasikan fase normalisasi pasar ketimbang sebuah kejatuhan struktural pada logam mulia.

"Pendorong pada semester dua adalah full ramp up Tambang Pani yang bakal mendorong volume, permintaan emas ritel domestik masih tinggi, dan potensi Fed rate cut dapat menstabilkan harga," katanya, Kamis (2/7/2026).

Walau demikian, Wafi memperkirakan torehan laba emiten emas untuk tahun penuh 2026 berpotensi berada di bawah capaian periode yang sama tahun 2025, mengingat tingginya basis perbandingan realisasi kenaikan harga emas sepanjang tahun lalu. 

Perusahaan yang didukung pertumbuhan volume tinggi dinilai bakal lebih tangguh (resilient) lantaran mampu mengompensasi (offset) penurunan harga jual rata-rata dan tetap menjaga tren pertumbuhan pendapatan.

Wafi menyematkan rekomendasi untuk saham MDKA seiring dengan operasional proyek Tambang Pani yang diproyeksi mampu menutupi dampak koreksi harga. Nilai tambah lain bagi MDKA adalah strategi diversifikasi usahanya ke sektor komoditas nikel. 

Wafi turut merekomendasikan saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) mengingat lini emas bertindak sebagai pilar utama pendapatan perseroan, ditambah portofolio nikel yang dapat berfungsi sebagai jangkar penyangga.

"Tantangan di luar harga emas adalah rupiah yang lemah berisiko menaikkan cost operasional berbasis impor, potensi revisi royalti dan kewajiban downstream, dan operational execution risk untuk tambang fase ramp-up seperti Pani butuh konsistensi produksi," tambahnya.

Terkini