Tips Psikolog untuk Atasi dan Kurangi Ketergantungan Gadget pada Anak

Kamis, 02 Juli 2026 | 03:42:32 WIB
Anak Kecanduan Gadget? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog [FOTO: NET].

JAKARTA - Pemanfaatan gadget pada anak-anak kian sukar dipisahkan dari dinamika kehidupan sehari-hari. Mulai dari urusan belajar, menonton tayangan video, hingga bermain gim, hampir seluruh aktivitas kini dapat dieksekusi via layar ponsel pintar atau tablet. 

Kendati demikian, tatkala sang anak mulai menunjukkan gelagat sulit berpisah dari gadget, gampang mengamuk saat perangkatnya diambil, atau lebih memilih menatap layar ketimbang berinteraksi bersama keluarga dan karibnya, orangtua wajib meningkatkan kewaspadaan. 

Fenomena tersebut dapat menjadi indikator bahwa anak mulai terjerat ketergantungan terhadap gadget.

Psikolog dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Aisyah Almas Silmina, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memaparkan bahwa orangtua tidak perlu panik apabila anak terlanjur akrab menggunakan gadget. 

Poin paling krusial ialah mengeksekusi perubahan secara bertahap dan berkesinambungan.

Berikut merupakan rentetan formula yang dianjurkan oleh Aisyah guna menolong memangkas ketergantungan gadget pada anak.

Cara mengurangi ketergantungan gadget pada anak

1. Tetapkan aturan penggunaan gadget

Tindakan awal ialah merumuskan regulasi yang benderang terkait pemanfaatan gadget di lingkungan rumah. Berdasarkan pandangan Aisyah, orangtua dapat mematok batasan durasi pemakaian gadget saban hari, misalkan maksimal satu sampai dua jam dalam sehari, menyelaraskan dengan umur dan keperluan sang anak. 

Durasi tersebut idealnya merupakan akumulasi total dalam sehari, bukan digelontorkan sekaligus dalam satu waktu. Di samping itu, orangtua pun wajib menjabarkan kapan waktu anak diperbolehkan dan dilarang menyentuh gadget agar mereka memahami koridor batasan yang berlaku.

2. Tentukan area bebas gadget di rumah

Bukan melulu soal batasan waktu, lokasi penggunaan gadget pun wajib ditertibkan. Aisyah menyarankan agar anak cuma diperkenankan memainkan gadget di ruang keluarga atau wilayah yang gampang terpantau oleh orangtua. 

Sebaliknya, bentengi penggunaan gadget di area kamar tidur maupun ketika momen makan bersama. Melalui metode ini, anak tetap mengantongi peluang untuk berinteraksi bersama anggota keluarga tanpa terdistraksi oleh layar.

3. Jangan menyerah saat anak tantrum

Tatkala regulasi anyar mulai diberlakukan, anak barangkali bakal menangis, naik pitam, atau tantrum lantaran tidak lagi bebas memainkan gadget semau hati. Menurut Aisyah, respon emosional tersebut tergolong sebagai hal yang wajar. Namun, orangtua dituntut wajib konsisten dan tidak lantas menyodorkan kembali gadget semata-mata demi meredam tangisan anak. 

Apabila tiap aksi tantrum selalu direspons dengan pelonggaran memberikan gadget, anak bakal mempelajari bahwa menangis merupakan taktik yang manjur untuk memperoleh apa yang dihasratkannya. Sebaliknya, tumpas kepanikan dan tunggu sampai anak mulai rileks, kemudian ajak berdiskusi seputar perasaannya serta terangkan kembali aturan yang telah disepakati bersama.

4. Alihkan dengan aktivitas yang menyenangkan

Memotong durasi bermain gadget bukan berarti mendiamkan anak terperangkap dalam kebosanan tanpa kesibukan. 

Aisyah menganjurkan orangtua untuk menyuguhkan opsi kegiatan lain yang tidak kalah memikat, layaknya bermain di taman, berenang, mengendarai sepeda, menggambar, mengolah kerajinan tangan, memainkan instrumen musik, menelaah buku cerita, atau menjajal permainan tradisional.

"Kalau aktivitas lain juga menyenangkan, anak perlahan akan melupakan gadget karena menemukan kesenangan dari pengalaman yang baru," jelasnya.

Di samping memangkas ketergantungan pada layar, rentetan aktivitas tersebut juga berfaedah mengasah kapabilitas motorik, kreativitas, serta kecakapan sosial anak.

5. Luangkan waktu berkualitas bersama anak

Mengacu pada pemaparan Aisyah, salah satu stimulus yang membuat anak betah berlama-lama memegang gadget ialah karena gawai tersebut menyuguhkan sarana hiburan secara instan. 

Oleh sebab itu, orangtua perlu menghadirkan stimulus pengalaman yang tidak kalah seru lewat jalinan interaksi langsung. Sediakan waktu berkisar 20 hingga 30 menit saban hari untuk betul-betul fokus bermain atau bercengkerama dengan anak tanpa diselingi aktivitas mengecek ponsel.

 Momentum simpel seperti membaca buku bersama, bermain peran, atau sekadar bertukar cerita mampu mendongkrak kelekatan hubungan antara orangtua dan anak.

6. Orangtua juga harus memberi contoh

Aisyah mewanti-wanti bahwa anak merekam dan meniru adat kebiasaan dari orangtuanya sendiri. Karena itu, bakal menjadi hal yang mustahil menyuruh anak memotong durasi gadget jika orangtua sendiri tiada hentinya sibuk menatap ponsel. 

Awali dengan mengaplikasikan kebiasaan steril gadget sewaktu makan bersama, mengobrol dengan keluarga, ataupun saat mendampingi anak bermain. Lewat pembuktian contoh konkret, anak bakal lebih gampang menangkap pengertian bahwa gadget bukanlah satu-satunya poros sumber hiburan.

7. Konsultasikan ke psikolog jika diperlukan

Apabila bermacam strategi telah ditempuh namun anak tetap menampakkan gejala ketergantungan yang akut—seperti konsisten tantrum kala gadget dijauhkan, sulit beraktivitas tanpa bantuan layar, ataupun fluktuasi perilaku yang kian mengusik keharmonisan hidup sehari-hari—orangtua idealnya segera melayangkan langkah untuk mencari bantuan profesional. 

Berdasarkan penjelasan Aisyah, psikolog dapat menolong melacak akar penyebab perilaku anak sekaligus menyodorkan formula pendampingan yang akurat agar proses memotong ketergantungan gadget berjalan secara lebih efektif.

Terkini