JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan lima prioritas strategis demi memperkokoh hubungan kemitraan antara Korea Selatan dan Indonesia pada gelaran Korea-Indonesia Economic Partnership Forum 2026.
Langkah ini diambil untuk mempercepat eksekusi investasi sekaligus mempererat relasi bilateral dengan para investor asal Negeri Gingseng tersebut.
Langkah pertama berupa percepatan investasi lewat penguatan koordinasi antarlembaga dalam Bottlenecking Task Force demi mengurai kendala regulasi maupun operasional.
Purbaya menyatakan bahwa pemerintah menggaransi proses penanganan hambatan ini diawasi langsung oleh presiden untuk membangun iklim bisnis yang lebih terukur.
Poin kedua menitikberatkan pada optimalisasi penggunaan komitmen pembebasan serta pemotongan tarif lewat kesepakatan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) demi mendongkrak volume perdagangan dan integrasi jaringan pasok.
Ketiga, mengoptimalkan fasilitas Economic Development Cooperation Fund (EDCF) lewat komitmen dana sebesar US$1,5 miliar untuk rentang waktu 2022–2026 dalam mendanai proyek infrastruktur utama, seperti air bersih, sanitasi, infrastruktur TIK, hingga pengembangan smart city.
“Strategi keempat adalah mendorong hilirisasi industri masa depan dan ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV).” kata Purbaya dalam siaran pers dikutip Senin (29/6/2026).
Purbaya mengundang korporasi Korea Selatan untuk memadukan keunggulan teknologi mereka dengan kelimpahan mineral kritis milik Indonesia, yang kini memasok sekitar 50 sampai 60% kebutuhan nikel dunia, demi mendirikan ekosistem baterai yang padu dan kuat.
Untuk strategi kelima, Kementerian Keuangan memastikan komitmen penuh dari pemerintah dalam menjaga stabilitas kebijakan, tata kelola fiskal yang sehat, pembangunan hijau berkelanjutan, serta iklim regulasi yang kompetitif demi investasi jangka panjang.
“Saya sangat yakin bahwa kerja sama yang lebih dalam dengan Korea Selatan melalui kerangka perdagangan yang maju, pembiayaan infrastruktur strategis, dan ekosistem baterai sirkular yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang berarti bagi kedua negara,” ujar Purbaya.
Di samping itu, Menkeu juga menekankan konsistensi pemerintah untuk mempertahankan daya tahan ekonomi domestik. Purbaya turut memaparkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap perkasa di tengah pusaran ketidakpastian global.
Pada triwulan I-2026, laju ekonomi Indonesia mampu membukukan pertumbuhan yang kuat di angka 5,61% ditopang dengan tingkat inflasi yang cukup terjaga pada level 3,08%.
"Kinerja ekonomi Indonesia tetap lebih kuat dibandingkan beberapa negara sejawat lainnya. Resiliensi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan inflasi yang relatif rendah," ujar Purbaya.
Daya tahan ekonomi ini pun ditopang oleh surplus neraca perdagangan yang mampu dipertahankan selama 72 bulan berturut-turut sampai April 2026, dengan posisi cadangan devisa yang setara dengan 5,5 bulan impor.
Pada sektor keuangan, distribusi kredit juga tetap melaju positif di kisaran angka dobel digit berkat kondisi likuiditas sistem finansial yang aman.