BI-Rate Naik 100 bps, BRI Belum Lihat Urgensi Kenaikan Bunga Signifikan

Kamis, 18 Juni 2026 | 22:55:31 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat, meskipun suku bunga acuan (BI-Rate) telah mengalami kenaikan kumulatif sebesar 100 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir menjadi 5,75 persen.

Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI, Teguh Sulistyono, mengungkapkan bahwa perseroan masih memiliki fondasi pendanaan yang kuat berkat basis nasabah yang luas.

“Kalau kita lihat dari sisi suku bunga long term, kita untuk sampai dengan sekarang belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara signifikan,” kata Teguh dalam acara bincang media di Jakarta, Kamis (18/6/2026).

Transformasi digital dan transaksional yang dilakukan BRI dinilai menjadi kunci penguat struktur pendanaan. 

Hal ini terbukti dari biaya dana (cost of fund) pada kuartal I 2026 yang turun menjadi 2,3 persen, dibandingkan 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Selain itu, rasio dana murah (Current Account Saving Account/CASA) juga tetap terjaga di level 68,1 persen.

Meskipun mengakui adanya permintaan special rate dari beberapa nasabah, pihak BRI tetap memprioritaskan efisiensi biaya kredit agar dapat memberikan suku bunga pinjaman yang kompetitif, terutama bagi pelaku segmen mikro dan UKM.

SEVP Transaction and Retail Funding BRI, Trilaksito Singgih, menambahkan bahwa perseroan terus memantau dinamika likuiditas pasar untuk menyiapkan langkah mitigasi ke depan.

“Apakah sudah mulai ada permintaan special rate? Iya. Tetapi most of all yang lebih penting yang harus dipahami oleh masyarakat adalah kita itu inginnya punya cost of credit yang efisien sehingga bisa memberi lending rate yang bagus ke masyarakat,” ujar Singgih.

Sebagai informasi, BI-Rate telah dinaikkan secara agresif dalam sebulan terakhir melalui serangkaian Rapat Dewan Gubernur (RDG) guna merespons pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level Rp18.000-an.

Terkini