Tenun Sisa Jadi Koleksi Bermakna Dukung Pendidikan Anak Indonesia

Jumat, 03 April 2026 | 10:48:54 WIB
Tenun Sisa Jadi Koleksi Bermakna Dukung Pendidikan Anak Indonesia

JAKARTA - Kain tenun sisa yang biasanya dianggap sebagai limbah ternyata bisa memiliki nilai baru yang jauh lebih besar. Bukan hanya diolah kembali menjadi produk fesyen yang menarik, tetapi juga diubah menjadi karya yang membawa dampak sosial nyata. 

Inilah yang dilakukan lewat kolaborasi antara Cita Tenun Indonesia (CTI) dan One Fine Sky (OFS), yang menghadirkan koleksi kaus bermakna demi mendukung pendidikan anak-anak Indonesia, khususnya di daerah terpencil.

Lewat proyek bertajuk Weaving the Sky, kain tenun sisa dari para desainer mitra CTI mendapat “kehidupan kedua”. Potongan kain yang nyaris terbuang itu kini tampil sebagai elemen utama pada koleksi kaus hitam khas OFS. 

Nilainya bukan hanya bertambah dari sisi estetika, tetapi juga menjadi simbol kepedulian terhadap pendidikan anak kurang mampu. Sebab, hasil dari penjualan koleksi ini akan membantu membuka akses seragam sekolah gratis bagi mereka yang membutuhkan.

Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana dunia mode bisa berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, dan misi sosial. 

Tenun yang digunakan tidak sekadar menjadi ornamen visual, tetapi juga membawa cerita panjang tentang warisan wastra Nusantara dan harapan bagi masa depan anak Indonesia.

Kolaborasi Tenun Sisa yang Punya Misi Sosial

Kain tenun sisa dari para desainer mitra Cita Tenun Indonesia (CTI) mendapat 'kehidupan kedua'. Setelah diolah kembali, nilai kain tersebut tak sekadar bertambah, tapi juga lebih bermakna karena bertujuan untuk mendukung upaya pendidikan anak Indonesia di daerah terpencil.

Kain tersebut menghiasi koleksi kaus buah kolaborasi CTI dan One Fine Sky (OFS) yang diluncurkan baru-baru ini. Berdiri sejak 2017, OFS yang digawangi salah satunya oleh desainer interior kenamaan Yuni Jie bergerak dengan misi sosialnya membuka akses seragam sekolah gratis bagi anak-anak yang kurang mampu.

Dalam menjalankan misi tersebut, OFS rutin berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif lintas bidang termasuk desainer mode seperti Biyan Wanaatmadja, Obin, dan Ria Miranda.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sebuah karya fesyen tidak harus berhenti pada nilai estetika semata. Di balik desain yang menarik, ada misi sosial yang diusung secara konsisten oleh OFS sejak berdiri. 

Melalui pendekatan seperti ini, pakaian yang dikenakan bukan hanya menjadi simbol gaya, tetapi juga membawa dampak bagi orang lain.

Weaving the Sky Hadirkan Tenun sebagai Warisan Bernilai

Kali ini, dalam proyek bersama CTI yang bertajuk 'Weaving the Sky', OFS bersinergi dengan 13 desainer sekaligus. Pada 2018, kolaborasi OFS dan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) sebetulnya melibatkan lebih banyak desainer, yakni 36 orang.

Namun bagi Yuni, kerja sama dengan CTI tak kalah berkesan karena mengangkat wastra yang merupakan warisan budaya. Terlebih kain tenun yang digunakan dalam bentuk perca yang nyaris terbuang sehingga ikut membantu upaya mengurangi dampak negatif fashion terhadap lingkungan. 

Industri mode masih menyandang status sebagai salah satu penyumbang terbesar polusi di dunia.

"Yes, elevated tenun waste," ujar Yuni.

Tenunnya pun beragam mengingat rekam jejak CTI yang telah melakukan pembinaan di 28 kabupaten di 14 provinsi sejak didirikan pada 2008. Mulai dari Sumba Timur, Sambas, Jepara, Garut, Putusibau (Kalimantan Barat), Bali, hingga Makassar.

Baca Juga :
Menyelamatkan 'Ratu Songket', Sinergi CTI dan BRI Hidupkan Kain Cual Bangka

Keberagaman tenun yang digunakan menjadi salah satu kekuatan utama koleksi ini. Setiap potongan kain membawa identitas daerah, tradisi, dan karakter tersendiri. 

Hal tersebut membuat koleksi Weaving the Sky tidak hanya tampil unik, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap kekayaan budaya Indonesia yang begitu luas.

Sentuhan Desainer Bikin Koleksi Semakin Berkarakter

Semakin berwarna lagi karena perancang yang terlibat masing-masing memiliki garis desain atau DNA tersendiri. Ada Eridani, Jeffry Tan, Danjyo Hiyoji, Fbudi, Alto Prioject, Amotsyamsurimuda, dan Moneymanworks. 

Tidak ketinggalan Danny Satriadi, Wilsen Willim, The Rizkianto, Moral, yang koleksi kolaborasinya bersama CTI naik pentas di Jakarta Fashion Week 2026 tahun lalu.

Setiap perancang diberi kesempatan untuk berkreasi dengan kaus berwarna hitam, alih-alih baju putih atau palet cerah lain yang telah menjadi ciri khas OFS.

"Kalau hitam, versatile atau gampang dipadukan dengan tenun warna apapun. Selain itu, perawatannya juga lebih mudah," ungkap Yuni.

Meski menghiasi kaus hitam berlogo awan khas OFS terlihat sederhana, Wilsen Willim yang menggarapnya dengan tenun dari Putusibau merasa cukup tertantang.

"Bagian tersulitnya adalah mencari batas titik. Bagaimana saya mengolahnya seefisien mungkin agar produk akhirnya nggak terlalu mahal. Tekniknya nggak terlalu rumit, tapi baju harus terlihat mahal," tutur Wilsen.

Pilihan warna hitam sebagai dasar kaus menjadi keputusan yang strategis. Selain mudah dipadukan dengan beragam warna tenun, pilihan ini juga membuat elemen wastra tampil lebih menonjol. Hasilnya, setiap karya tetap terlihat sederhana namun punya karakter kuat, sesuai dengan identitas masing-masing desainer.

Dari Satu Kaus Jadi Harapan untuk Anak Indonesia

Harga rata-rata setiap kaus kreasi para desainer harus berada di kisaran Rp 1,2 juta. Pada hari peluncuran koleksi, hampir semua kaus terjual. Satu kaus akan dikonversikan menjadi tiga seragam sekolah.

Sejauh ini, OFS telah mendistribusikan 29.408 set seragam. Angka tersebut akan bertambah menyusul penjualan koleksi 'Weaving the Sky'.

Fakta ini menjadi penutup yang paling kuat dari seluruh kolaborasi tersebut. Sebab, setiap kaus yang terjual bukan hanya berarti sebuah produk fesyen berhasil menemukan pemilik baru, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nyata membantu pendidikan anak-anak Indonesia. 

Dari satu kaus, lahir tiga seragam sekolah yang bisa dipakai anak-anak untuk menempuh pendidikan dengan lebih layak.

Kolaborasi CTI dan OFS lewat Weaving the Sky menjadi bukti bahwa limbah tekstil bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari sisi sosial dan budaya. 

Kain tenun sisa yang semula nyaris terbuang kini berubah menjadi koleksi penuh makna. Dari wastra Nusantara, lahir harapan baru untuk masa depan pendidikan anak Indonesia.

Terkini

Jadwal Puasa Sunnah Bulan April 2026 Lengkap

Jumat, 03 April 2026 | 13:22:02 WIB

5 Cara Ampuh Menjaga Rambut Tetap Sehat Saat Tidur

Jumat, 03 April 2026 | 13:22:00 WIB

Kenali Risiko dan Manfaat Ikan Lele untuk Kesehatan

Jumat, 03 April 2026 | 13:21:59 WIB