JAKARTA - Selama ini, hormon kortisol dikenal sebagai “musuh” saat menghadapi stres. Banyak orang berpikir menurunkan kadar kortisol adalah cara paling tepat untuk rileks dan menjaga kesehatan mental.
Namun, pandangan ini ternyata keliru. Kortisol bukan sekadar hormon stres, melainkan memiliki peran penting bagi berbagai fungsi vital tubuh.
Mengelola stres bukan soal menekan hormon ini, tetapi memahami cara tubuh bekerja dan merespons tekanan secara alami.
Peran Kortisol dalam Fungsi Tubuh
Kortisol diproduksi oleh kelenjar adrenal yang terletak di atas ginjal. Hormon ini berfungsi untuk menjaga tubuh tetap stabil dan berenergi. Menurut Cleveland Clinic, kortisol membantu tubuh menggunakan glukosa sebagai sumber energi, mengurangi peradangan, mengatur tekanan darah, serta mengontrol ritme sirkadian atau siklus tubuh.
Kadar kortisol dalam tubuh juga berfluktuasi sepanjang hari. Pagi hari, hormon ini meningkat untuk memberi energi saat bangun, sementara malam hari menurun agar tubuh siap tidur. Selain itu, kortisol dapat meningkat saat sakit atau menghadapi stres.
Seperti dikatakan oleh ahli endokrinologi Roberto Salvatori dari Universitas Johns Hopkins, “Kadar kortisol kita diatur setiap menit.” Pernyataan ini menegaskan bahwa hormon ini esensial untuk kelangsungan hidup dan bukan sesuatu yang perlu ditekan secara berlebihan.
Gangguan Kortisol Relatif Jarang Terjadi
Meskipun banyak orang khawatir akan kadar kortisol, gangguan yang serius terkait hormon ini sebenarnya jarang terjadi. Kortisol rendah kronis bisa menyebabkan insufisiensi adrenal, seperti penyakit Addison, di mana sistem imun menyerang kelenjar adrenal.
Sebaliknya, kadar kortisol yang terlalu tinggi dapat dialami penderita sindrom Cushing, biasanya akibat tumor di kelenjar adrenal atau hipofisis. Namun, kondisi ini termasuk kasus langka.
Dengan kata lain, sebagian besar orang sehat tidak perlu khawatir menurunkan hormon ini karena tubuh sudah mengaturnya secara alami.
Tes Kortisol Tidak Selalu Diperlukan
Gejala yang terkait dengan kadar kortisol sangat bervariasi dan bisa mirip dengan tanda gangguan kesehatan lainnya. Kortisol bisa diukur melalui darah, urine, atau air liur, tetapi interpretasi hasil tes tidak semudah kelihatannya.
Menurut Katie Guttenberg, ahli endokrinologi di UTHealth Houston, “Ada banyak nuansa dalam menafsirkan kortisol dan itulah yang membuat saya sedikit khawatir tentang pasien yang melakukan tes kortisol sendiri tanpa pengawasan dokter.”
Melakukan tes darah sekali saja tidak memberi informasi yang akurat. Bahkan, hal ini bisa menimbulkan stres tambahan. Contohnya, perempuan yang menggunakan pil KB mungkin memiliki kadar kortisol tinggi secara tidak akurat karena efek pil terhadap hormon tubuh, sehingga hasil tes bisa menyesatkan.
Mengelola Stres Tanpa Menekan Kortisol
Alih-alih fokus menurunkan hormon kortisol, pendekatan terbaik bagi orang sehat adalah kembali ke dasar manajemen stres. Pola hidup sehat seperti tidur cukup, makan bergizi, berolahraga, dan terapi psikologis lebih efektif dalam menjaga keseimbangan tubuh dan mental.
Bagi mereka dengan kondisi medis tertentu, misalnya diabetes atau sindrom Cushing, pengelolaan kadar kortisol dapat dilakukan dengan pengawasan dokter. Obat-obatan hanya diberikan untuk kasus spesifik dan dosisnya harus diatur hati-hati.
Sementara itu, suplemen atau vitamin yang diklaim menurunkan kortisol biasanya tidak terbukti efektif.
Intinya, kortisol adalah hormon yang esensial untuk tubuh, bukan musuh yang harus dikalahkan. Memahami fungsinya dan mengelola stres melalui cara alami akan jauh lebih bermanfaat daripada berusaha menekan kadar hormon ini secara paksa.
Dengan memahami peran kortisol, kita bisa menghargai bagaimana tubuh bekerja menghadapi tekanan, sekaligus menghindari langkah-langkah yang tidak perlu atau bahkan berisiko. Kesehatan mental dan fisik lebih bergantung pada gaya hidup sehat daripada obsesif menurunkan hormon stres ini.