Tips Aman Memanaskan Masakan Bersantan Sisa Lebaran Menurut Ahli

Rabu, 25 Maret 2026 | 17:25:29 WIB
Tips Aman Memanaskan Masakan Bersantan Sisa Lebaran Menurut Ahli

JAKARTA - Setelah perayaan Lebaran, banyak keluarga masih memiliki sisa hidangan khas yang kaya santan seperti opor ayam, rendang, atau gulai. 

Makanan tersebut sering kali disimpan untuk dinikmati kembali beberapa hari setelah hari raya karena rasanya yang tetap lezat.

Namun, tidak sedikit orang yang ragu memanaskan kembali makanan bersantan. Ada anggapan yang cukup populer bahwa masakan bersantan tidak boleh dipanaskan ulang karena dianggap dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan.

Padahal, jika dilakukan dengan cara yang tepat, makanan bersantan sisa Lebaran sebenarnya masih aman untuk dipanaskan kembali dan dikonsumsi. Kunci utamanya terletak pada cara penyimpanan serta teknik pemanasan yang digunakan.

Dietisien Yesi Herawati dari Rumah Sakit Dokter Hasan Sadikin Bandung menjelaskan beberapa cara aman untuk memanaskan kembali makanan bersantan agar tetap layak dikonsumsi tanpa mengurangi kualitasnya.

Masakan Bersantan Masih Aman Dikonsumsi Beberapa Hari

Menurut Yesi, hidangan bersantan seperti opor ayam maupun rendang daging sapi masih dapat dikonsumsi hingga hari ketiga setelah Lebaran.

Namun, hal tersebut hanya berlaku jika makanan disimpan dengan benar dan dipanaskan kembali dengan metode yang tepat.

Penyimpanan makanan yang baik sangat penting untuk menjaga kualitas serta mencegah pertumbuhan bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Ia menekankan bahwa proses pemanasan ulang harus dilakukan secara menyeluruh hingga panas merata ke bagian dalam makanan.

“Pastikan suhu panas terdistribusi merata hingga ke bagian dalam makanan, bukan hanya di permukaan,” kata Yesi.

Jika hanya bagian luar yang panas sementara bagian dalam masih dingin, bakteri berpotensi tetap bertahan di dalam makanan.

Perhatikan Suhu Saat Memanaskan Makanan Bersantan

Selain cara pemanasan, suhu juga menjadi faktor penting yang harus diperhatikan saat memanaskan kembali makanan bersantan.

Yesi menyarankan agar makanan dipanaskan hingga suhu bagian dalam mencapai standar tertentu agar bakteri berbahaya dapat mati.

Ia menyebutkan bahwa suhu bagian dalam makanan sebaiknya mencapai minimal 70 derajat Celsius selama dua menit.

Alternatif lainnya adalah memanaskan makanan hingga suhu 75 derajat Celsius selama 30 detik atau 80 derajat Celsius selama enam detik. Standar suhu tersebut penting untuk memastikan bahwa makanan benar-benar aman dikonsumsi kembali.

Untuk hidangan bersantan yang berkuah, cara paling mudah untuk memanaskannya kembali adalah dengan merebusnya hingga mendidih sebelum disajikan.

Proses ini membantu memastikan bahwa seluruh bagian makanan mendapatkan panas yang cukup.

Cara Menghangatkan Masakan Tanpa Kuah

Tidak semua hidangan bersantan memiliki kuah. Beberapa jenis makanan seperti rendang atau hidangan santan yang lebih kering membutuhkan cara pemanasan yang sedikit berbeda.

Untuk jenis makanan seperti ini, proses pemanasan dapat dilakukan dengan menumis kembali menggunakan sedikit minyak agar panas merata.

Selain itu, makanan juga bisa dihangatkan menggunakan metode kukus yang membantu mempertahankan kelembapan makanan.

Pilihan lain yang dapat digunakan adalah memanaskan makanan dengan oven, microwave, atau bahkan air fryer.

Metode tersebut cukup praktis digunakan, terutama bagi mereka yang ingin menghangatkan makanan dalam waktu singkat.

Meski demikian, apa pun metode yang digunakan, penting untuk memastikan bahwa makanan benar-benar panas hingga ke bagian dalam sebelum dikonsumsi.

Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

Hindari Memanaskan Makanan Berulang Kali

Meskipun makanan bersantan masih dapat dipanaskan ulang, Yesi mengingatkan agar proses pemanasan tidak dilakukan terlalu sering.

Memanaskan makanan secara berulang dapat merusak tekstur hidangan serta memengaruhi rasa aslinya.

Selain itu, proses pemanasan berulang juga dapat menurunkan kandungan gizi yang terdapat dalam makanan tersebut.

“Makanan bersantan bila dihangatkan berkali-kali akan menghasilkan radikal bebas dan lemak trans yang berbahaya terhadap kesehatan,” ujar Yesi.

Ia juga mengingatkan bahwa suhu dan durasi pemanasan yang tidak tepat dapat memicu risiko keracunan makanan.

Hal ini karena bakteri dapat berkembang dengan cepat pada suhu antara empat hingga 60 derajat Celsius.

Selain makanan bersantan, hidangan yang mengandung sayuran hijau juga sebaiknya tidak dipanaskan berulang kali.

Menurut Yesi, sayuran hijau mengandung nitrat yang dapat berubah menjadi zat karsinogenik jika dipanaskan secara berulang. Zat tersebut berpotensi memicu risiko kanker jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Untuk menjaga kualitas makanan, sisa hidangan yang akan dikonsumsi pada waktu lain sebaiknya dibagi menjadi beberapa porsi kecil terlebih dahulu.

Setelah itu, makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat agar tidak terpapar udara secara langsung.

Penyimpanan di dalam lemari pendingin juga perlu diperhatikan. Makanan yang disimpan dalam wadah tertutup di bagian chiller dapat bertahan sekitar tiga hingga empat hari.

Sementara itu, jika disimpan di dalam freezer, makanan dapat bertahan lebih lama, yakni sekitar tiga hingga empat bulan.

Meski begitu, penyimpanan yang terlalu lama tetap dapat memengaruhi kualitas makanan. Makanan yang disimpan terlalu lama di dalam kulkas biasanya akan kehilangan kelembapan serta mengalami perubahan rasa.

Karena itu, penting untuk memperhatikan waktu penyimpanan agar makanan yang dikonsumsi tetap aman dan memiliki kualitas yang baik.

Dengan cara penyimpanan dan pemanasan yang tepat, sisa hidangan bersantan setelah Lebaran masih dapat dinikmati kembali tanpa menimbulkan risiko kesehatan.

Terkini