JAKARTA - Kinerja industri perbankan nasional pada awal tahun sering menjadi indikator penting untuk melihat arah bisnis sepanjang tahun berjalan.
Berbagai bank mulai mempublikasikan laporan keuangan awal yang memberikan gambaran mengenai pertumbuhan kredit, perolehan dana masyarakat, serta kemampuan menghasilkan laba.
Pada periode ini, sejumlah bank menghadapi dinamika yang cukup kompleks. Di satu sisi, upaya ekspansi pembiayaan tetap dilakukan untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Namun di sisi lain, bank juga perlu memperkuat pencadangan risiko guna mengantisipasi ketidakpastian ekonomi.
Kondisi tersebut juga tercermin pada kinerja PT Bank Permata Tbk dengan kode saham BNLI. Bank ini mencatatkan kinerja laba yang mengalami penurunan pada awal tahun 2026, meskipun beberapa indikator bisnis lainnya masih menunjukkan pertumbuhan.
Kinerja Laba Bank Permata Pada Awal Tahun
PT Bank Permata Tbk nampaknya memasang amunisi yang cukup kuat untuk menghadapi tahun ini dengan mengalokasikan impairment yang signifikan. Namun pada akhirnya, langkah tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan pertumbuhan laba bank.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, hingga Februari 2026 Permata Bank membukukan laba bersih sebesar Rp697,03 miliar secara bank only.
Posisi tersebut mengalami penurunan dibandingkan dengan laba bersih sebesar Rp820,63 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut menunjukkan adanya tekanan pada beberapa komponen pendapatan serta peningkatan pada sejumlah pos beban yang memengaruhi kinerja laba bank.
Meski demikian, langkah pencadangan yang lebih besar sering kali menjadi strategi perbankan untuk memperkuat ketahanan menghadapi potensi risiko kredit di masa mendatang.
Tekanan Pada Pendapatan Bunga Bersih
Jika ditelisik lebih dalam, bank memang tidak mampu mencatatkan pertumbuhan pada pos pendapatan bunga bersih atau net interest income selama periode ini.
Pendapatan bunga bersih Bank Permata tercatat mengalami koreksi sebesar 3,45 persen secara tahunan menjadi Rp1,6 triliun.
Koreksi tersebut terjadi seiring dengan penurunan pendapatan bunga sebesar 8,28 persen secara tahunan yang tercatat menjadi Rp2,56 triliun.
Di sisi lain, bank sebenarnya berhasil mendorong efisiensi melalui penurunan beban bunga.
Beban bunga tercatat turun sebesar 15,24 persen secara tahunan menjadi Rp961,81 miliar. Selain itu, kinerja pendapatan berbasis komisi juga masih menunjukkan pertumbuhan.
Pendapatan dari komisi, provisi, fee, serta administrasi berhasil tumbuh sebesar 2,94 persen secara tahunan menjadi Rp280,26 miliar.
Pertumbuhan pada pendapatan non bunga ini memberikan kontribusi tambahan bagi pendapatan bank di tengah tekanan pada pendapatan bunga.
Peningkatan Beban Pencadangan Dan Dampaknya
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kinerja laba Bank Permata pada awal tahun ini adalah meningkatnya alokasi impairment atau pencadangan kerugian kredit.
Bank tercatat mengalokasikan beban impairment yang jauh lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Hingga Februari 2026, beban impairment tercatat sebesar Rp197,55 miliar. Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan dengan Rp24,26 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan pencadangan ini pada akhirnya turut mendorong kenaikan beban operasional bank. Secara keseluruhan, beban operasional tercatat naik sebesar 20,03 persen secara tahunan menjadi Rp718,95 miliar.
Akibatnya, laba operasional bank mengalami koreksi sebesar 16,78 persen secara tahunan menjadi Rp878,42 miliar.
Langkah peningkatan pencadangan tersebut biasanya dilakukan bank sebagai bagian dari strategi kehati-hatian dalam mengelola risiko kredit.
Dengan pencadangan yang lebih kuat, bank diharapkan memiliki bantalan yang cukup apabila terjadi peningkatan risiko kredit di masa depan.
Pertumbuhan Kredit Dan Dana Pihak Ketiga
Meski laba mengalami tekanan, dari sisi intermediasi Bank Permata masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik.
Penyaluran kredit bank tercatat tumbuh sebesar 8,89 persen secara tahunan hingga mencapai Rp136,67 triliun. Pertumbuhan pembiayaan ini juga turut mendorong peningkatan total aset bank.
Hingga Februari 2026, total aset Bank Permata tercatat mencapai Rp261,05 triliun atau tumbuh sebesar 2,06 persen secara tahunan.
Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga yang dihimpun bank juga mengalami pertumbuhan meskipun relatif terbatas.
Dana pihak ketiga tercatat tumbuh sebesar 1,54 persen secara tahunan menjadi Rp183,72 triliun.
Dalam komposisi dana tersebut, dana murah memainkan peran penting dalam menopang struktur pendanaan bank.
Dana giro tercatat tumbuh sebesar 17,64 persen secara tahunan menjadi Rp71,5 triliun. Sementara itu, dana tabungan juga meningkat sebesar 8,77 persen secara tahunan menjadi Rp46,86 triliun.
Sebaliknya, dana deposito yang tergolong sebagai dana mahal justru mengalami penurunan. Deposito tercatat turun sebesar 15,2 persen secara tahunan menjadi Rp65,36 triliun.
Perubahan komposisi dana ini menunjukkan upaya bank dalam memperkuat struktur pendanaan dengan meningkatkan porsi dana murah.
Strategi tersebut umumnya dilakukan untuk menjaga efisiensi biaya dana serta meningkatkan kemampuan bank dalam menghasilkan margin yang lebih baik di masa mendatang.