JAKARTA - Ramadan selalu menjadi waktu yang istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, termasuk melaksanakan salat Tarawih pada malam hari. Setelah rangkaian salat tersebut selesai, banyak jamaah memanjatkan doa sebagai penutup ibadah malam yang penuh berkah itu. Salah satu doa yang sering dibaca bersama setelah Tarawih adalah doa yang dikenal dengan sebutan Doa Kamilin.
Doa Tarawih pendek Latin menjadi salah satu bacaan yang banyak dicari umat Islam saat bulan Ramadan tiba. Setelah menunaikan salat Tarawih, umat Muslim dianjurkan untuk memanjatkan doa sebagai bentuk harapan agar ibadah yang dilakukan diterima oleh Allah SWT dan diberi kekuatan untuk istiqamah hingga akhir Ramadan.
Salat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Di Indonesia, tradisi membaca doa bersama setelah Tarawih sudah mengakar kuat di berbagai masjid dan musala. Salah satu doa yang paling populer adalah Doa Kamilin yang biasa dibaca secara berjamaah.
Momentum Ramadan menjadi waktu terbaik untuk memperbanyak doa. Selain memperbanyak istighfar dan shalawat, membaca doa setelah Tarawih menjadi pelengkap ibadah malam yang penuh keberkahan ini. Berikut ulasan lengkap mengenai doa Tarawih serta penjelasan mengenai keutamaannya.
Doa Tarawih Pendek Yang Banyak Dibaca Umat Islam
Ibadah Tarawih menjadi salah satu amalan khas yang hanya dikerjakan pada bulan Ramadan. Setelah rangkaian salat selesai, banyak jamaah membaca doa bersama sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar seluruh ibadah yang dilakukan diterima.
Mengacu pada laman resmi Majelis Ulama Indonesia melalui mui.or.id, doa yang lazim dibaca setelah Tarawih di Indonesia dikenal dengan sebutan Doa Kamilin. Berikut lafaz lengkapnya:
Allahumma ij‘alnaa bil-iimaan kaamiliin, walil-faraa’idh mu-addiin, walish-shalaati haafidziin, waliz-zakaati faa‘iliin, walimaa ‘indaka thaalibiin, wali ‘afwika raajiin, wabil-hudaa mutamassikiin, wa ‘anil-laghwi mu‘ridhiin, wa fid-dunyaa zaahidiin, wa fil aakhirati raaghibiin, wabil-qadhaa’i raadhiin, walin-na‘maa’i syaakiriin, wa ‘alal-balaa’i shaabiriin, wa tahta liwaa’i Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam yaumal qiyaamati saairiin, wa ‘alal haudhi waaridiin, wa ilal jannati daakhiliin, wa minan naari naajiin, wa ‘alaa sariiril karaamati qaa‘idiin, wa bihuurin ‘iin mutazawwijiin, wa min sundusin wa istabraqin wa diibaajin mutalabbisiin, wa min tha‘aamil jannati aakiliin, wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syaaribiin, bi akwaabin wa abaariqa wa ka’sin mim ma‘iinin ma‘al ladziina an‘amta ‘alaihim minan nabiyyin wash-shiddiqiin wash-syuhadaa’i wash-shaalihiin, wa hasuna ulaa’ika rafiiqaa, dzaalikal fadhlu minallaah, wa kafaa billaahi ‘aliimaa. Allahumma ij‘alnaa fii haadzihil lailatisy syahrisy syariifatil mubaarakah minas su‘adaa’il maqbuuliin, wa laa taj‘alnaa minal asyqiyaail marduudiin. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi ajma‘iin, birahmatika yaa arhamar raahimiin, walhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, menunaikan kewajiban-kewajiban, menjaga shalat, menunaikan zakat, mencari sesuatu yang ada di sisi-Mu, mengharapkan ampunan-Mu, berpegang teguh pada petunjuk-Mu, berpaling dari perkara yang sia-sia, zuhud terhadap dunia, senang terhadap akhirat, ridho dengan ketetapan-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, bersabar menghadapi cobaan, berjalan di bawah panji Nabi Muhammad SAW pada hari Kiamat, mengunjungi telaga (Kautsar), masuk ke dalam surga, selamat dari neraka, duduk di atas ranjang kemuliaan, menikahi bidadari, mengenakan sutera tebal dan tipis yang indah, menikmati makanan surga, minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cerek, dan piala yang berasal dari mata air surga, bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Mereka itulah sebaik-baik teman. Itulah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan penuh berkah ini termasuk orang-orang yang berbahagia dan diterima amalnya. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang sengsara dan ditolak amalnya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keberkahan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh sahabatnya. Dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih di antara semua yang mengasihi. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”
Doa ini disebut “Kamilin” karena diawali dengan permohonan agar dijadikan hamba yang sempurna imannya. Kandungannya sangat lengkap, mencakup aspek dunia dan akhirat, keselamatan dari api neraka, hingga harapan berkumpul bersama para nabi dan orang saleh.
Doa ini juga tercantum dalam berbagai kitab doa ulama Nusantara seperti Silah al-Mujarrab karya KH Maftuh Basthul Birri serta Majmu’ah Maqruat Yaumiyah wa Usbu’iyyah yang disusun oleh KH Abdullah Faqih.
Penjelasan Tentang Salat Tarawih Menurut Ulama
Salat Tarawih adalah salat sunnah yang dikerjakan pada malam hari di bulan Ramadan setelah salat Isya. Secara bahasa, “tarawih” berasal dari kata tarwiihah yang berarti istirahat, karena pada praktiknya terdapat jeda setiap empat rakaat.
Dalam mazhab Syafi’i, jumlah rakaat Tarawih adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam, tidak termasuk Witir. Hal ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab yang menyebut bahwa pendapat tersebut merupakan mazhab Syafi’i dan juga dipegang oleh mayoritas ulama seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Sementara itu, sebagian ulama mazhab Hanafi seperti Imam al-Kamal Ibnu al-Humam dalam kitab Fathul Qadir menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah melaksanakan qiyam Ramadan sebanyak 11 rakaat termasuk Witir.
Karena itu, menurut sebagian ulama, 8 rakaat sudah mencukupi kesunnahan, sedangkan 20 rakaat termasuk amalan yang sangat dianjurkan atau mustahab. Perbedaan ini menunjukkan keluasan syariat Islam.
Umat Muslim dapat memilih jumlah rakaat sesuai keyakinan mazhab dan kondisi masing-masing tanpa harus saling menyalahkan.
Keutamaan Salat Tarawih Di Bulan Ramadan
Banyak hadis sahih yang menjelaskan keutamaan Tarawih. Dalam hadis riwayat Sahih Bukhari dan Sahih Muslim disebutkan:
“Barang siapa yang melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Tarawih bukan sekadar salat sunnah biasa, melainkan bagian dari qiyam Ramadan yang memiliki nilai ibadah tinggi. Selain itu, salat berjamaah di masjid juga mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.
Di Indonesia, pembacaan doa bersama setelah Tarawih menjadi tradisi yang memperkaya spiritualitas Ramadan. Tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat selama doa yang dibaca berisi kebaikan dan tidak menyelisihi akidah.
Tradisi Membaca Doa Bersama Setelah Tarawih
Tradisi membaca doa setelah Tarawih telah lama menjadi bagian dari praktik keagamaan masyarakat Muslim di Indonesia. Banyak jamaah mengikuti doa yang dipimpin imam atau ustaz setelah rangkaian salat selesai.
Bagi sebagian orang yang belum lancar membaca huruf Arab, keberadaan teks doa dalam bentuk latin sangat membantu agar tetap bisa mengikuti doa bersama dengan khusyuk.
Karena itu, memahami dan menghafal doa Tarawih pendek latin menjadi hal yang cukup penting bagi jamaah yang ingin ikut berdoa bersama setelah salat Tarawih.
Dengan membaca doa tersebut, umat Islam diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memohon agar seluruh amal ibadah selama Ramadan diterima dengan baik.