Mentan Amran Tegaskan Harga Daging dan Telur Harus Sesuai HET

Kamis, 05 Maret 2026 | 13:14:30 WIB
Mentan Amran Tegaskan Harga Daging dan Telur Harus Sesuai HET

JAKARTA - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa harga komoditas pangan strategis seperti daging sapi, ayam, dan telur ayam harus tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. 

Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan dan melindungi daya beli masyarakat, yang sangat bergantung pada harga-harga bahan pokok tersebut. 

Amran menegaskan, tidak hanya pemerintah yang berperan dalam mengatur harga, namun juga penting untuk memastikan distribusi pasokan yang lancar dan tidak ada praktik penahanan stok yang dapat memicu lonjakan harga yang tidak terkendali.

“Seluruh komoditas strategis harus tetap berada di bawah harga eceran tertinggi (HET),” kata Amran.

HET tersebut menetapkan harga daging ayam ras sebesar Rp40.000 per kilogram, daging sapi Rp140.000 per kilogram, dan telur ayam ras Rp30.000 per kilogram. 

Penegasan ini mengingat pentingnya mengatur harga pangan dalam rangka menjamin ketersediaan bahan pangan yang cukup bagi masyarakat, terlebih lagi di tengah permintaan yang meningkat pada momen tertentu, seperti menjelang bulan Ramadan.

Kesiapan Pasokan dan Langkah Antisipatif Pemerintah

Amran memastikan bahwa stok pangan strategis seperti daging sapi, ayam, dan telur dalam kondisi aman. Dia menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk memenuhi kebutuhan pasokan, termasuk penerbitan rekomendasi pemasukan sapi dan daging yang sudah dilakukan sejak Desember 2025.

 Bahkan, menurutnya, Kementerian Pertanian telah memastikan tidak ada masalah pasokan dari sisi mereka. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan tidak ada alasan bagi harga pangan strategis ini untuk melonjak.

“Mengenai masalah pasokan, kami tidak ada kendala. Semua rekomendasi sudah dikeluarkan sejak Desember lalu, dan stok kebutuhan sapi dan daging sapi sudah kita penuhi. Jadi, tidak ada alasan bagi harga untuk melonjak,” ujar Amran.

Namun, meskipun pasokan aman, Amran menemukan adanya indikasi bahwa lonjakan harga lebih banyak dipengaruhi oleh pihak perantara atau middlemen. 

“Kami temukan bahwa harga yang naik justru berasal dari pihak perantara yang menahan pasokan. Semua pihak harus segera mengeluarkan pasokannya,” jelas Amran.

Ini menunjukkan bahwa tantangan utama dalam pengendalian harga bukan hanya soal pasokan, tetapi juga pengawasan distribusi di tingkat perantara.

Tindakan Tegas Terhadap Praktik Penahanan Stok

Mentan juga meminta Satgas Pangan dan aparat penegak hukum, termasuk Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditkrimsus) dan Kepolisian, untuk memperketat pengawasan terhadap praktik penahanan stok dan permainan harga. Ia menegaskan pentingnya penindakan tegas jika ada pihak-pihak yang terbukti melanggar ketentuan tersebut. 

Penyegelan dan tindakan hukum lainnya harus diterapkan terhadap mereka yang melakukan tindakan ilegal yang dapat merugikan masyarakat.

"Jika ditemukan praktik penahanan stok atau permainan harga, saya minta agar pihak yang bersangkutan segera diberi tindakan hukum, termasuk penyegelan jika memang terbukti melanggar ketentuan," tegas Amran.

Selain itu, dia juga memberikan apresiasi kepada para pelaku usaha pangan dan eksportir yang tetap menjaga produksi serta memperluas akses pasar, meski ada tantangan besar dalam menjaga harga dan pasokan. 

Salah satunya adalah perusahaan seperti Japfa dan Charoen Pokphand yang terus mendukung ekspor produk unggas Indonesia ke negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Timor Leste.

Pentingnya Transparansi dan Pengawasan Harga di Pasar

Untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah spekulasi harga, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian Agung Suganda mengusulkan perlunya penguatan pengawasan harga, terutama pada periode peningkatan permintaan seperti bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri. 

Ia menilai bahwa transparansi informasi harga di pasar akan menjadi instrumen penting untuk menghindari terjadinya praktik spekulasi yang merugikan masyarakat.

“Setiap pasar perlu memiliki panel harga yang meng-update informasi harga secara berkala agar konsumen tahu harga riil di pasar. Transparansi seperti ini penting agar tidak ada permainan harga di tingkat pedagang,” kata Agung. Menurutnya, konsolidasi dengan pelaku usaha telah dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan menjaga stabilitas harga.

Dalam kesempatan ini, Agung juga mengimbau agar pelaku perunggasan turut menjaga kestabilan harga agar tidak terjadi lonjakan harga yang berlebihan di tingkat pedagang.

 “Kami juga mengharapkan pelaku usaha perunggasan untuk turut mengawal stabilitas harga agar tidak terjadi lonjakan yang berlebihan saat permintaan meningkat,” tambah Agung.

Terkini