JAKARTA - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai duta atau ambassador untuk produk-produk dalam negeri.
Menurutnya, setiap warga memiliki kesempatan untuk memperkenalkan keunggulan Indonesia ke dunia, baik melalui interaksi sehari-hari maupun aktivitas profesional.
“Self-diplomacy bisa dilakukan melalui kebanggaan terhadap produk lokal. Dengan bangga menggunakan produk dalam negeri, kita juga turut membantu UMKM kita berkembang,” ujar Roro.
Pendekatan ini menjadi salah satu strategi Kemendag dalam meningkatkan nilai ekspor sekaligus memperluas jangkauan produk lokal di pasar global. Selain itu, pemerintah mendorong pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar lebih aktif memasarkan produknya melalui berbagai program dan pameran internasional.
Strategi Kemendag Dukung UMKM Go Global
Kemendag telah menyiapkan berbagai langkah konkret untuk memfasilitasi UMKM menembus pasar internasional. Salah satunya adalah ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026. Pameran ini ditargetkan menghasilkan transaksi senilai 17,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp293,3 triliun.
Roro menegaskan, pencapaian target ekspor tahun ini didukung oleh tren positif pertumbuhan ekspor Indonesia sebesar 6,15 persen pada 2025.
“Ini adalah momen untuk menunjukkan produk-produk unggulan Indonesia, mulai dari food and beverages, furniture, chemicals, hingga fashion dan tekstil,” ujarnya.
Kemendag juga mempermudah UMKM yang ingin berpartisipasi melalui proses business matching sejak tahap awal pendaftaran. Calon exhibitor dapat terhubung dengan pembeli potensial dari luar negeri, sehingga peluang transaksi bisa dipersiapkan lebih matang sebelum pameran berlangsung.
Peran Self-Diplomacy dalam Promosi Produk Lokal
Roro menekankan bahwa setiap individu bisa mempraktikkan self-diplomacy, misalnya dengan mengenakan atau menggunakan produk lokal saat bertemu dengan sahabat dari negara lain. Langkah sederhana ini dapat meningkatkan kesadaran internasional terhadap kualitas dan keunggulan produk Indonesia.
“Kalau kita bangga terhadap produk dalam negeri, orang lain juga akan melihat nilai yang kita miliki. Ini bentuk kontribusi setiap warga dalam mempromosikan produk Indonesia ke dunia,” kata Wamendag.
Dengan pendekatan ini, Kemendag berharap masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga ambassador yang aktif mempromosikan UMKM. Cara ini diyakini lebih efektif karena melibatkan interaksi sosial nyata, sehingga pesan tentang produk lokal lebih mudah diterima.
Peluang Networking dan Edukasi di Trade Expo Indonesia
Trade Expo Indonesia dirancang bukan sekadar pameran produk, tetapi juga sebagai wadah edukasi dan networking. Roro menjelaskan, pameran ini akan menghadirkan seminar, talkshow, dan forum bisnis yang memungkinkan peserta belajar langsung tentang strategi ekspor, tren pasar internasional, dan teknologi produksi.
“Bagi teman-teman yang tertarik melakukan ekspor, ini waktu yang tepat untuk membangun koneksi. Kita bisa langsung terkoneksi dengan orang-orang yang tepat,” jelasnya.
Roro menambahkan, keberhasilan ekspor membutuhkan sikap proaktif dan kerja keras, sehingga TEI menjadi kesempatan emas bagi UMKM untuk memperluas jejaring dan mempelajari praktik bisnis global.
Selain itu, keterlibatan atase perdagangan dan perwakilan Indonesia di 33 negara memastikan proses bisnis lebih terarah. Hal ini membuat potensi transaksi lebih tinggi karena pembeli sudah diperkenalkan dengan produk sejak awal, meningkatkan efektivitas pameran.
Dengan langkah ini, Kemendag menegaskan bahwa promosi produk dalam negeri bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pelaku usaha, tetapi juga seluruh masyarakat.
Melalui kombinasi self-diplomacy, fasilitasi pemerintah, dan event internasional seperti TEI, produk Indonesia diharapkan mampu bersaing di pasar global, meningkatkan ekspor, dan mendorong pertumbuhan UMKM.