Daging Kambing dan Sapi Pengaruhnya terhadap Tekanan Darah

Kamis, 29 Januari 2026 | 11:07:12 WIB
Daging Kambing dan Sapi Pengaruhnya terhadap Tekanan Darah

JAKARTA - Perdebatan soal daging merah kerap muncul ketika berbicara tentang kesehatan jantung dan tekanan darah. Daging kambing dan daging sapi, dua jenis daging merah yang paling sering dikonsumsi, sama-sama dikenal kaya protein, vitamin, dan mineral penting. 

Namun, di balik kandungan gizinya, muncul pertanyaan yang sering membuat ragu masyarakat: apakah salah satu dari keduanya lebih aman bagi tekanan darah?

Daging kambing dan sapi mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin D, vitamin B12, zat besi, serta seng yang dibutuhkan tubuh. Keduanya juga termasuk sumber zat besi yang sangat baik. 

Meski demikian, konsumsi daging merah tidak bisa dilepaskan dari pengaruhnya terhadap tekanan darah, terutama jika dikonsumsi berlebihan atau diolah dengan cara tertentu. Karena itu, memahami perbedaan kandungan dan dampaknya menjadi penting agar konsumsi daging tetap seimbang dan aman.

Kandungan Zat Besi pada Daging Kambing dan Sapi

Mengutip Very Well, zat besi dalam makanan berperan penting dalam membantu tubuh memproduksi sel darah merah yang sehat dan mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Asupan zat besi yang cukup mendukung tingkat energi, fungsi otak, serta kesejahteraan secara keseluruhan.

Baik daging kambing maupun daging sapi mengandung zat besi heme, yaitu jenis zat besi yang hanya terdapat dalam produk hewani. Zat besi heme lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati. Inilah alasan mengapa daging merah sering direkomendasikan bagi orang yang membutuhkan peningkatan kadar zat besi.

Dalam satu porsi sekitar 3 ons, kandungan zat besi pada daging kambing mencapai 2,0 miligram, sedangkan daging sapi mengandung sekitar 2,5 miligram. 

Perbedaan ini menunjukkan bahwa daging sapi memiliki kadar zat besi sedikit lebih tinggi dibandingkan daging kambing. Meski selisihnya tidak terlalu besar, informasi ini tetap relevan bagi mereka yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi, seperti penderita anemia.

Pengaruh Konsumsi Daging Merah terhadap Tekanan Darah

Terlepas dari kandungan gizinya, konsumsi daging merah, baik kambing maupun sapi, dapat memengaruhi tekanan darah jika dikonsumsi terlalu sering. 

Sebuah studi tahun 2022 yang menganalisis lebih dari 31.000 orang dewasa di Amerika Serikat menemukan bahwa mereka yang paling banyak mengonsumsi daging merah memiliki risiko 29–39 persen lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi lebih sedikit.

Peningkatan tekanan darah ini tidak terjadi secara instan, melainkan berlangsung secara bertahap seiring waktu. Artinya, kebiasaan konsumsi jangka panjang memiliki peran besar dalam menentukan dampaknya terhadap kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk tidak hanya memperhatikan jenis daging yang dikonsumsi, tetapi juga frekuensi dan porsinya.

Baik daging kambing maupun sapi termasuk dalam kategori daging merah, sehingga efeknya terhadap tekanan darah relatif serupa jika dikonsumsi dalam jumlah dan pola yang sama. Faktor pembeda utama justru terletak pada cara pengolahan serta tambahan bahan seperti garam atau pengawet.

Faktor Senyawa dan Natrium dalam Daging Merah

Ada beberapa alasan mengapa daging merah dapat memengaruhi tekanan darah. Salah satunya adalah kandungan senyawa tertentu yang diubah oleh bakteri usus menjadi trimetilamina-N-oksida atau TMAO. 

Senyawa ini diketahui dapat memengaruhi kesehatan jantung dan tekanan darah. Seberapa besar dampaknya sangat dipengaruhi oleh seberapa sering daging dikonsumsi serta bagaimana cara pengolahannya.

Selain itu, kandungan natrium juga berperan penting. Daging kambing dan sapi segar secara alami mengandung natrium dalam jumlah sedang, sekitar 55 miligram per porsi 100 gram atau 3,5 ons. Jumlah ini relatif masih aman jika dikonsumsi dalam batas wajar.

Namun, masalah sering muncul ketika daging diolah menjadi produk olahan. Daging olahan seperti sosis dan bacon mengandung sekitar 400 persen lebih banyak natrium dibandingkan daging segar. 

Asupan natrium berlebihan inilah yang dapat mempercepat kenaikan tekanan darah, terutama pada orang yang sudah memiliki riwayat hipertensi. Karena itu, jenis pengolahan daging menjadi faktor kunci dalam menentukan dampaknya bagi kesehatan.

Cara Aman Mengonsumsi Daging untuk Tekanan Darah Sehat

Jika tujuan utama adalah meningkatkan asupan zat besi, baik daging kambing maupun sapi tetap merupakan pilihan yang baik. Untuk memaksimalkan penyerapan zat besi, daging merah sebaiknya dikonsumsi bersama makanan kaya vitamin C seperti paprika, tomat, atau buah jeruk. Kombinasi ini membantu tubuh menyerap zat besi secara lebih optimal.

Namun, untuk menjaga tekanan darah tetap stabil, konsumsi semua jenis daging merah perlu dibatasi. Para ahli menyarankan agar asupan daging merah, termasuk daging kambing dan sapi, tidak dikonsumsi terlalu sering. Porsi yang moderat dan frekuensi yang terbatas menjadi kunci utama.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain memilih daging segar dibandingkan daging olahan, mengonsumsi dalam porsi sedang, serta membatasi konsumsi hingga satu hingga dua kali dalam seminggu. Selain itu, memilih potongan daging tanpa lemak dan membuang lemak yang terlihat juga dapat membantu mengurangi risiko kesehatan.

Dalam proses memasak, sebaiknya hindari penggunaan garam berlebihan. Rempah-rempah, herba, dan perasan lemon bisa menjadi alternatif bumbu yang lebih sehat tanpa mengurangi cita rasa. Dengan pendekatan ini, kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi tanpa harus mengorbankan kesehatan tekanan darah.

Pada akhirnya, tidak ada satu jenis daging merah yang sepenuhnya bebas risiko. Baik daging kambing maupun sapi aman dikonsumsi selama jumlah, frekuensi, dan cara pengolahannya diperhatikan dengan bijak.

Terkini